BEKABAR.ID, SUNGAIPENUH – Polemik pelayanan di RSUD M.H.A. Thalib kembali menjadi sorotan publik. Jika sebelumnya pihak manajemen dan Dinas Kesehatan menekankan bahwa seluruh proses sudah berjalan sesuai prosedur, suara berbeda justru datang dari pasien dan keluarga yang merasakan langsung pelayanan di lapangan.
Persoalan yang mencuat, menurut
sejumlah keluarga pasien, bukan semata-mata tentang mekanisme pendaftaran
online melalui aplikasi Mobile JKN atau soal kuota poli spesialis yang
terbatas. Hampir seluruh pasien yang datang disebut telah memahami alur pelayanan,
termasuk kewajiban mendaftar secara daring dan menunggu jadwal dokter. Namun,
yang menjadi pemicu emosi adalah cara petugas mekecewakan.
Dijelaskan nya bahwa, keluarga
pasien baru pulang dari berobat dari Padang, karna ada kesalahan tujuan
rujukan, maka rujukan harus segera diganti dengan jadwal ulang pemeriksaan poli
di RS M Djamil Padang pada hari selasa mendatang. Maka keluarga pasien dengan
secepatnya memintakan kembali rujukan pada hari Jum'at.
Namun sesampainya didepan
pelayanan loket 4, petugas memberitahukan kuota pendaftaran penuh hingga sampai
hari Rabu . Dikarenakan kondisi pasien yang harus kembali ke RS Padang pada
hari Selasa, tentunya keluarga pasien menanyakan solusi. Disitulau, pelayanan
dari petugaa mulai tidak baik.
Keluarga pasien menilai,
komunikasi yang ditunjukkan oknum petugas terkesan kaku, tidak empatik, bahkan
cenderung meremehkan. Dalam insiden yang sempat viral, keluarga pasien disebut
emosi bukan karena aturan, melainkan karena merasa diperlakukan tanpa penghargaan
sebagai sesama manusia.
“Yang kami pertanyakan bukan
sistemnya. Kami tahu harus daftar online, tahu soal kuota. Tapi cara menjawab
pertanyaan itu yang menyakitkan,” ujar keluarga pasien dengan nada kecewa.
Menurut keterangan keluarga
pasien, setiap pertanyaan yang diajukan keluarga pasien justru dijawab dengan
nada tidak enak dan terkesan mencemooh. Bahkan, lebih parah lagi, ada dugaan
petugas menertawakan keluarga pasien saat mencoba meminta penjelasan. Sikap
tersebut dinilai melukai perasaan keluarga yang tengah berada dalam situasi
cemas menunggu penanganan medis.
"Dalam pelayanan kesehatan,
etika dan empati merupakan fondasi utama. Pasien dan keluarga datang dalam
kondisi psikologis yang tidak stabil, penuh kekhawatiran, dan membutuhkan
kepastian. Jika komunikasi tidak disampaikan dengan lembut dan profesional,
maka gesekan kecil bisa berubah menjadi konflik besar, " tegasnya.
Kritik ini menegaskan bahwa
persoalan pelayanan publik bukan hanya soal kepatuhan terhadap prosedur
administratif. Rumah sakit sebagai institusi layanan kesehatan dituntut tidak
hanya tertib sistem, tetapi juga humanis dalam pelayanan.
Masyarakat menilai, pembenahan
tidak cukup dilakukan pada sisi regulasi dan aplikasi digital semata. Evaluasi
menyeluruh terhadap sikap, etika komunikasi, serta standar keramahan petugas
menjadi hal yang mendesak. Pelayanan prima bukan hanya tentang antrean yang
teratur, tetapi juga tentang rasa dihargai.
Lebih jauh lagi, publik berharap
pimpinan rumah sakit tidak sekadar fokus pada pembenaran prosedur di ruang
klarifikasi. Sebagai pemegang tanggung jawab tertinggi, seharusnya pimpinan
melakukan evaluasi mendalam terhadap kinerja dan sikap bawahan di garis depan
pelayanan. Klarifikasi administratif tidak akan menyelesaikan persoalan jika
akar masalahnya adalah etika dan cara berkomunikasi.
"Momentum polemik ini
seharusnya menjadi bahan introspeksi internal. Alih-alih sibuk menjelaskan
bahwa sistem sudah benar, langkah konkret berupa pembinaan, pelatihan
komunikasi, serta penegakan disiplin pelayanan justru lebih dibutuhkan agar
citra rumah sakit semakin membaik dan kepercayaan masyarakat dapat dipulihkan,"
ujar warga.
Pelayanan kesehatan adalah hak
dasar masyarakat. Prosedur boleh ketat, sistem boleh modern, namun etika
melayani tetap menjadi wajah utama sebuah rumah sakit. (*)

