BEKABAR.ID, KERINCI - Penyusutan air Danau Kerinci menjadi perbincangan hangat warga Kabupaten Kerinci saat ini. Pasalnya kendati musim kemarau yang lebih ekstrim dari tahun 2026 ini, jika pun surut, air danau tak sesurut seperti kondisi sekarang.
Kendati sudah menjadi
perbincangan hangat dan menimbulkan banyak dampak, pihak terkait belum
memberikan penjelasan terhadap fenomena ini. Hal itu membuat Taufik Ismail,
salah seorang warga Sanggaran Agung buka suara. Menurutnya, faktor surutnya air
danau secara signifikan itu karena dihisab oleh Naga Danau. “Bisa jadi dihisap
oleh naga danau,” ucapnya sambil berkelakar, Jumat (23/01/26).
Taufik yang sejak kecil tinggal
di Sanggaran Agung ini menjelaskan, selama puluhan tahun dia hidup di Sanggaran
Agung, belum pernah air danau kering seperti saat ini. “Seumur hidup saya, baru
kali ini saya lihat kalau air danau surutnya seperti ini,” ujarnya.
Dampak yang dirasakan langsung
saat ini, kata Taufik, masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di perairan.
“Kalau sudah kering begini, masyarakat yang mencari kerang untuk dijual sebagai
pemenuhan kebutuhan hidup itu tidak bisa lagi mencari kerang, ini tentu PR kita
Bersama,” bebernya.
Selain itu belum lagi menurut
Taufik dampaknya ke masyarakat yang menggantungkan hidup pada perangkap ikan yang
biasa disebut Ahan. “Kalau air surut otomatis ahan tidak bisa digunakan, airnya
tidak ada, bagaimana ikan mau masuk?” celutuknya.
Dia berpendapat, surutnya air
danau ini bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga soal tata kelola.
Absennya penjelasan dari otoritas berwenang menimbulkan pertanyaan, apakah
fenomena ini murni akibat perubahan iklim, atau ada faktor lain yang luput dari
pengawasan, seperti alih fungsi lahan, eksploitasi sumber air, atau pengelolaan
kawasan danau yang abai terhadap daya dukung lingkungan.
Dia meminta agar segera melakukan
kajian terbuka dan menyeluruh. Tanpa langkah cepat dan transparan, penyusutan
Danau Kerinci berpotensi meluas menjadi krisis sosial dan ekonomi. Sektor
perikanan, mata pencaharian warga, hingga pariwisata di sekitar danau terancam
lumpuh.
“Kalau dibiarkan berlarut-larut,
yang kering bukan hanya danaunya, tapi juga kehidupan masyarakat di
sekitarnya,” kata Taufik.
Dia berharap pihak terkait segera
mengkaji faktor terjadinya fenomena ini, agar Solusi segera ditemukan. “Sebelum
dampaknya lebih luas, sebaiknya solusi harus segera dicari. Karena banyak
sektor yang akan terdampak, termasuk sektor wisata yang berada disekeliling
danau,” tukas Taufik.
Editor: Sebri Asdian

