Oleh:
Rian Indra Eftritianto
Independen
Arkeologi dan Museum Studies
Ketua GenPI Provinsi Jambi | Wakil Ketua IAAI Komda Sumbangsel
Ketika berbicara tentang pariwisata Provinsi Jambi, kita
sering melihat Jambi dari wajah yang sangat identik dengan kawasan dataran
rendah: Sungai Batanghari, kebudayaan Melayu, kawasan perkotaan, situs sejarah,
dan berbagai destinasi yang berkembang di sepanjang jalur sungai dan pesisir
timur.
Namun, Jambi sesungguhnya memiliki wajah lain yang sangat
berbeda di bagian hulunya.
Kerinci.
Wilayah yang berada di dataran tinggi Bukit Barisan ini
memiliki lanskap alam, sejarah, dan kebudayaan yang membentuk karakter
tersendiri. Gunung Kerinci, Danau Kerinci, perkebunan di Kayu Aro, hutan,
lembah, dan permukiman masyarakat bukan hanya membentuk panorama, tetapi juga
menjadi ruang panjang tempat kebudayaan Kerinci tumbuh dan diwariskan.
Karena itu, menurut saya, sudah saatnya kita mulai melihat
Kerinci bukan hanya sebagai destinasi wisata alam Jambi, tetapi sebagai
salah satu pusat wisata budaya Jambi di wilayah hulu.
Bukan untuk mempertentangkan Kerinci dengan wilayah lain di
Jambi. Justru sebaliknya, keberagaman karakter inilah yang dapat menjadi
kekuatan pariwisata Provinsi Jambi.
Pola Permukiman Rumah Larik di Hiang
Tinggi, Kerinci, 2026 | Fotografer Musa Congkel
Jambi Tidak Hanya Memiliki Satu
Wajah Kebudayaan
Jambi sering dipahami melalui identitas Melayu. Itu
merupakan bagian penting dari sejarah dan kebudayaan provinsi ini. Namun, Jambi
juga memiliki keberagaman masyarakat, sejarah, lingkungan, dan kebudayaan yang
membentuk karakter berbeda-beda di setiap wilayah.
Kerinci adalah salah satunya.
Dataran tinggi Kerinci memiliki sejarah hunian yang panjang.
Tinggalan megalitik, temuan arkeologis, tradisi lisan, rumah larik, sistem
adat, aksara Incung, hingga berbagai tradisi masyarakat memperlihatkan bahwa
kawasan ini memiliki perjalanan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari
lanskap pegunungannya.
Di sinilah saya melihat konsep cultural landscape
menjadi relevan. Pemikiran ini antara lain dikembangkan oleh J.B. Jackson,
yang melihat lanskap sebagai sesuatu yang tidak semata-mata terbentuk oleh
alam, tetapi juga oleh aktivitas dan kehidupan manusia.
Jika perspektif tersebut digunakan untuk membaca Kerinci,
maka gunung, danau, sawah, perkebunan, permukiman, rumah larik, situs
arkeologi, dan ruang adat bukanlah bagian yang berdiri sendiri.
Semuanya merupakan satu lanskap kehidupan.
Artinya, ketika kita berbicara tentang Kerinci, kita
sesungguhnya sedang berbicara mengenai hubungan panjang antara manusia,
alam, dan kebudayaan.
Kerinci Bukan Sekadar Pemandangan
Saya melihat ada kecenderungan dalam promosi pariwisata
untuk menjadikan alam sebagai wajah utama Kerinci.
Gunung Kerinci ditampilkan.
Danau Kerinci ditampilkan.
Perkebunan teh Kayu Aro ditampilkan.
Air terjun dan lanskap pegunungan ditampilkan.
Semua memang menarik.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa cerita yang kita berikan kepada wisatawan setelah mereka
melihat semua itu?
Karena pariwisata yang kuat tidak hanya membuat orang
melihat sebuah tempat.
Pariwisata yang kuat membuat orang memahami sebuah tempat

Kenduri Sko Di Belui, 2026 -
Fotografer Ega Renta Mulia
Pemikiran Edward Relph tentang place and
placelessness menurut saya menarik untuk digunakan membaca persoalan ini.
Sebuah tempat memiliki karakter dan identitas yang membuatnya berbeda dari
tempat lain. Jika Kerinci hanya dipromosikan melalui gambar gunung, danau,
perkebunan, dan panorama, maka ada risiko identitas Kerinci justru direduksi
menjadi sekadar pemandangan.
Padahal, yang membuat Kerinci berbeda bukan hanya apa yang
dilihat oleh mata, tetapi juga cerita yang hidup di balik lanskap tersebut.
Gunung Kerinci bukan sekadar gunung.
Danau Kerinci bukan sekadar danau.
Kayu Aro bukan hanya perkebunan.
Rumah larik bukan sekadar rumah tradisional.
Situs arkeologi bukan sekadar benda tua.
Semuanya memiliki cerita yang dapat membentuk pengalaman
wisata.
Dari Lanskap Alam Menjadi Lanskap
Budaya
Dalam perspektif cultural landscape, sebuah lanskap
tidak hanya dipahami sebagai bentang alam, tetapi sebagai ruang yang terbentuk
melalui hubungan manusia dengan lingkungannya.
Cara pandang ini menurut saya sangat tepat untuk membaca
Kerinci.
Lanskap rumah larik, misalnya, tidak hanya memperlihatkan
bentuk arsitektur tradisional. Di dalamnya terdapat pola permukiman, hubungan
kekerabatan, kehidupan komunal, serta cara masyarakat mengorganisasi ruang
kehidupannya.
Rumah larik dengan demikian bukan sekadar objek wisata.
Ia merupakan bagian dari lanskap budaya.
Hal yang sama dapat digunakan untuk membaca situs-situs
arkeologi. Tinggalan arkeologi tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian
dari perjalanan sejarah manusia yang berlangsung dalam sebuah ruang.
Karena itu, menurut saya, wisata budaya Kerinci
seharusnya tidak dibangun berdasarkan daftar objek semata, tetapi berdasarkan
hubungan antarwarisan dalam satu lanskap.
Wisatawan tidak hanya diajak berpindah dari satu objek ke
objek lainnya.
Mereka diajak membaca sebuah cerita.
Kerinci Memiliki Modal Wisata Budaya
yang Khas
Jika kita berbicara mengenai potensi wisata budaya Kerinci,
setidaknya ada beberapa kekuatan yang menurut saya perlu mendapat perhatian
lebih serius:
1. Lanskap permukiman tradisional.
Rumah larik merupakan salah satu
karakter penting kebudayaan Kerinci. Pola permukimannya memperlihatkan
kehidupan komunal dan sejarah hubungan sosial masyarakat.
2. Warisan arkeologi.
Tinggalan megalitik dan berbagai
temuan arkeologi memberikan peluang untuk mengembangkan wisata edukasi dan
interpretasi sejarah yang lebih kuat.
3. Tradisi dan adat yang masih hidup.
Kenduri Sko dan berbagai tradisi
adat memperlihatkan bahwa kebudayaan Kerinci bukan sekadar peninggalan masa
lalu, tetapi masih memiliki fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat.
4. Bahasa, aksara, dan pengetahuan
lokal.
Aksara Incung, tradisi lisan,
pengetahuan lingkungan, dan berbagai bentuk pengetahuan lokal merupakan bagian
penting dari identitas Kerinci.
5. Hubungan antara alam dan kebudayaan.
Gunung, danau, perkebunan, hutan,
pertanian, dan permukiman membentuk lanskap kehidupan yang dapat dikembangkan
sebagai pengalaman wisata yang lebih utuh.
Kelima hal tersebut menunjukkan bahwa Kerinci sebenarnya memiliki modal untuk membangun wisata budaya yang tidak harus bergantung pada atraksi buatan
Jangan
Jadikan Budaya Sekadar Pertunjukan
Ada satu hal yang menurut saya perlu kita waspadai.
Ketika kebudayaan mulai dilihat sebagai potensi pariwisata,
ada kecenderungan untuk menjadikannya sekadar pertunjukan.
Tradisi ditampilkan.
Pakaian adat dipakai.
Tarian dipentaskan.
Rumah tradisional dijadikan latar foto.
Kemudian selesai.
Menurut saya, pendekatan seperti itu terlalu sederhana.
Laurajane Smith, melalui konsep Authorized Heritage Discourse,
mengkritik cara pandang yang terlalu menempatkan warisan sebagai benda,
bangunan, atau peninggalan yang ditentukan nilainya oleh otoritas tertentu.
Bagi Smith, heritage juga berkaitan dengan proses masyarakat dalam
memberi makna terhadap masa lalu.
Pemikiran ini penting untuk Kerinci.
Sebab ketika kita mengembangkan wisata budaya, kita harus
bertanya:
Siapa yang menentukan nilai sebuah warisan?
Siapa yang memiliki pengetahuan tentangnya?
Dan siapa yang mendapatkan manfaat ketika warisan tersebut
menjadi bagian dari pariwisata?
Karena itu, wisata budaya harus tetap menghormati konteks
masyarakat.
Tidak semua tradisi harus dipertontonkan. Tidak semua situs
harus dibuka. Tidak semua ruang sakral harus menjadi destinasi.
Ada batas yang harus dihormati.
Justru di sinilah profesionalisme pengelolaan wisata budaya
diuji.
Arkeologi Harus Menjadi Bagian dari
Cerita Wisata
Sebagai seorang yang bekerja secara independen dalam bidang
Arkeologi dan Museum Studies, saya melihat Kerinci memiliki peluang besar untuk
mengembangkan model wisata yang berbasis pengetahuan.

Motif
Lampit Tigo, Kerinci, 2026 - Fotografer Musa Congkel
Nick Merriman, melalui gagasan Public Archaeology,
menekankan pentingnya hubungan antara arkeologi dan publik.
Bagi saya, pemikiran tersebut sangat relevan.
Arkeologi tidak cukup hanya menemukan artefak dan
menghasilkan laporan penelitian.
Pengetahuan arkeologi harus dapat kembali kepada masyarakat.
Situs harus memiliki interpretasi.
Artefak harus memiliki cerita.
Sejarah harus dapat dipahami.
Dan masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut.
Saya membayangkan suatu saat wisatawan yang datang ke
Kerinci tidak hanya mendapatkan informasi:
“Ini adalah situs arkeologi.”
Tetapi mendapatkan cerita:
Siapa yang pernah hidup di sini?
Bagaimana mereka membangun
kehidupan?
Bagaimana mereka berhubungan dengan
lingkungan?
Apa yang diwariskan kepada
masyarakat hari ini?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan
baik, maka situs arkeologi berubah dari sekadar objek menjadi pengalaman
pengetahuan.
Kerinci Bisa Menjadi Laboratorium
Wisata Budaya Jambi
Menurut saya, Kerinci memiliki peluang untuk menjadi semacam
laboratorium pengembangan wisata budaya berbasis lanskap, arkeologi,
masyarakat, dan ekonomi kreatif di Provinsi Jambi.
Bukan berarti seluruh wilayah Kerinci harus dijadikan
destinasi.
Justru perlu ada klasifikasi.
Ada warisan yang harus dilindungi.
Ada warisan yang dapat menjadi ruang pendidikan.
Ada warisan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi.
Ada pula warisan yang sebaiknya tetap berada dalam ruang
kehidupan masyarakat.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan gagasan heritage
management, yang menempatkan pelindungan, pemanfaatan, dan
keberlanjutan warisan sebagai sesuatu yang harus berjalan bersama.
Menurut saya, pariwisata tidak boleh hanya mengejar jumlah
kunjungan.
Pariwisata juga harus menjaga sumber daya yang membuat
wisatawan datang.
Masyarakat Jangan Hanya Menjadi
Penonton
Pengembangan wisata budaya juga harus menempatkan masyarakat
sebagai bagian utama.
Pemikiran Peter E. Murphy mengenai community-based
tourism relevan dalam konteks ini. Pariwisata seharusnya memberi ruang
kepada masyarakat lokal untuk terlibat dalam proses pengembangan dan
mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata.
Masyarakat Kerinci dapat menjadi:
? pemandu wisata;
? pengelola homestay;
? pelaku kuliner;
? pengrajin;
? seniman;
? pengelola ruang budaya;
? pembuat konten;
? pengelola desa wisata;
? sekaligus pemilik cerita.
Masyarakat bukan sekadar latar belakang wisata.
Masyarakat adalah bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Jika wisatawan datang ke sebuah desa, manfaat ekonominya
harus terasa di desa tersebut.
Jika wisatawan menikmati kebudayaan masyarakat, maka
masyarakat harus memiliki posisi dalam menentukan bagaimana kebudayaan tersebut
ditampilkan.
Dari Kerinci untuk Jambi
Saya melihat potensi Kerinci sebenarnya dapat menjadi bagian
dari strategi yang lebih besar untuk membangun wajah pariwisata Provinsi Jambi.
Jambi memiliki kekayaan budaya yang beragam.
Kawasan Muaro Jambi memiliki sejarah arkeologi dan budaya
yang sangat kuat.
Wilayah Batanghari memiliki sejarah sungai dan kebudayaan
yang berbeda.
Merangin memiliki lanskap dan warisan sejarah tersendiri.
Sementara Kerinci menawarkan karakter dataran tinggi,
lanskap pegunungan, permukiman tradisional, tradisi adat, dan warisan arkeologi
yang memiliki identitas berbeda.
Keberagaman tersebut seharusnya tidak diseragamkan.
Justru harus menjadi kekuatan.
Jambi tidak membutuhkan satu wajah pariwisata. Jambi
membutuhkan mozaik destinasi yang memperlihatkan keberagaman identitas
wilayahnya.
Dan Kerinci memiliki posisi penting dalam mozaik tersebut.
Kerinci Membutuhkan Peta Jalan
Wisata Budaya
Karena itu, menurut saya, Kabupaten Kerinci membutuhkan peta
jalan wisata budaya yang tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan
kebudayaan, arkeologi, museum, ekonomi kreatif, pendidikan, dan pembangunan
desa.
Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu mulai dilakukan:
Landscape Gunung Keringi dari Kayo Aro, Kerinci, Provinsi Jambi, 2026. Foto: Rifqi Kurniawan 
