BERKABAR.ID, KERINCI - Penyusutan drastis debit air Danau Kerinci bukan sekadar persoalan teknis lingkungan. Ia telah menjelma menjadi ujian serius bagi keberpihakan wakil rakyat. Di tengah keresahan nelayan, petani, pelaku wisata, dan masyarakat pesisir danau, publik kini menunggu satu hal, sejauh mana taring DPRD Kerinci benar-benar bekerja untuk rakyat yang mereka wakili.
Aktivis Kerinci, Askar Putra,
menilai langkah DPRD Kerinci pasca mencuatnya isu penurunan debit air Danau
Kerinci akan menjadi barometer keberanian politik lembaga legislatif Kerinci. Menurutnya, pernyataan DPRD yang akan segera turun ke lapangan tidak boleh
berhenti sebagai retorika.
“Kita ingin melihat, sejauh mana
DPRD Kerinci benar-benar mengadvokasi masyarakat. Apakah mereka hadir sebagai
perwakilan rakyat, atau justru menjadi pemusnah rakyat secara perlahan dengan
membiarkan persoalan ini menguap tanpa penyelesaian nyata,” kata Askar.
Askar mengingatkan agar tidak
terjadi praktik main mata antar-sektor, terutama antara kekuasaan,
investor, dan birokrasi. Ia menilai persoalan Danau Kerinci terlalu serius
untuk ditangani secara seremonial.
“Ini bukan persoalan kecil.
Dampaknya luas, ekologi rusak, ekonomi rakyat terpukul, dan masa depan Danau
Kerinci sebagai sumber kehidupan terancam. Jangan sampai ada kompromi gelap
yang justru mengorbankan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat
Kerinci tidak anti-investasi. Namun, menurutnya, investasi harus berjalan
seiring dengan perlindungan terhadap ruang hidup warga.
“Kita tidak menolak investor
masuk ke Kerinci. Tapi jangan sampai investor masuk, lalu masyarakat yang
dikorbankan. Kalau itu yang terjadi, DPRD harus berani berdiri di garis rakyat,
bukan di barisan modal,” tegas Askar.
Sebelumnya, DPRD Kerinci melalui
hearing bersama pihak PLTA Hidro Merangin Kerinci menyatakan akan segera
melakukan peninjauan langsung ke Danau Kerinci. Anggota DPRD Kerinci, Adi
Purnomo, mengatakan langkah lapangan akan dilakukan bersama organisasi
perangkat daerah (OPD) dan pihak terkait.
“Setelah kita turun, baru ada
kesepakatan-kesepakatan,” ujar Adi dalam rapat dengar pendapat di Gedung DPRD
Kerinci, Selasa (3/2).
Senada, Wakil Ketua DPRD Kerinci,
Boy Edwar, memastikan lembaganya akan mengambil langkah konkret. Ia telah
meminta Sekretariat DPRD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk
menjadwalkan peninjauan langsung ke Danau Kerinci serta lokasi operasional
PLTA.
“Kami ingin melihat langsung
kondisi di lapangan. Setelah itu, kita rumuskan langkah nyata demi kepentingan
masyarakat,” katanya.
Anggota DPRD Kerinci lainnya, Irwandi,
menilai persoalan ini tidak bisa dilihat secara sektoral. Menurutnya,
penyusutan Danau Kerinci menyentuh sektor perikanan, pertanian, hingga
pariwisata—yang selama ini menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Danau Kerinci adalah sumber
penghidupan sekaligus aset wisata. Kita harus menelusuri akar persoalannya agar
kejadian serupa tidak terus berulang,” ujar Irwandi.
Dari pihak PLTA, Humas Hidro
Merangin Kerinci, Asrlori, tak menampik bahwa pada 1–15 Januari 2026 pihaknya
melakukan uji coba turbin. Pada periode yang sama, wilayah Kerinci mengalami
curah hujan rendah.
Hanya saja dia tak mengaku jjika uji turbin PLTA yang menjadikan faktor utama menyusutnya air Danau
Kerinci. Dia berujar jika minimnya pasokan air dari Sungai Batang Merao dan
sungai-sungai penyangga lainnya disebut sebagai faktor utama penyusutan danau. “Adanya
rekayasa cuaca di wilayah Sumatera Barat yang turut memengaruhi pola hujan
regional,” celutuknya.
Editor: Sebri Asdian
Ilustrasi AI genered bekabar.id 
