Catatan Redaksi bekabar.id
Sejak bekabar.id menyiarkan
langsung kondisi menyusutnya air Danau Kerinci melalui akun Facebook resminya
pada 22 Januari 2026, perhatian publik langsung tersedot. Video itu menyebar
cepat. Simpati berdatangan. Media lain ikut menindaklanjuti. Konten kreator,
aktivis lingkungan, LSM, hingga warga biasa ikut bersuara.
Sejak hari itu, Danau Kerinci tak
lagi sekadar bentang alam. Ia menjadi isu politik, sosial dan ekologis.
Dibicarakan dari warung kopi sampai ruang rapat DPRD Kabupaten Kerinci. Semua
bertanya hal yang sama, apa yang sebenarnya terjadi?
Kecurigaan publik sejak awal
mengarah ke PT Kerinci Merangin Hidro atau yang sering disebut PLTA Kerinci.
Bukan tanpa alasan, pada periode yang sama, perusahaan ini tengah melakukan uji
coba turbin. Namun alih-alih memberi penjelasan, PLTA memilih bungkam. Tidak
ada konferensi pers, tidak ada pernyataan terbuka. Upaya konfirmasi media
kepada humas PLTA, Aslori, berulang kali dilakukan dan berulang kali pula tak
dijawab.
Hampir dua pekan lamanya,
perusahaan memilih diam. Baru setelah isu ini viral dan tekanan publik
membesar, PLTA bergerak. Hearing digelar di DPRD Kerinci. Media dan LSM
diundang dalam acara “coffee morning” di sebuah hotel. Klarifikasi pun
disampaikan, terlambat dan terkesan defensif.
Inti klarifikasi PLTA sederhana, penyusutan
Danau Kerinci bukan akibat uji turbin, melainkan faktor cuaca. Curah hujan
rendah, inflow menurun. Titik.
Masalahnya, data yang mereka
sampaikan justru membuka lebih banyak pertanyaan.
Dalam hearing DPRD Kerinci pada Selasa
(3/2/2026), Aslori mengakui bahwa untuk menghasilkan daya maksimal, PLTA
membutuhkan debit air sekitar 100 meter kubik per detik, atau 100 ribu liter
per detik. Hitungannya mudah, dalam satu jam, turbin menyedot 360 juta liter
air.
Angka ini tidak kecil. Apalagi
bagi sebuah danau yang sedang dalam kondisi kronis akibat pendangkalan.
Namun PLTA bersikukuh, penggunaan
air danau hanya 40 persen, sisanya dari Sungai Batang Merangin. Baik. Mari kita
ikuti logika mereka.
Empat puluh persen dari 100 ribu
liter berarti 40 ribu liter air Danau Kerinci per detik. Dalam satu jam,
jumlahnya mencapai 144 juta liter. Itu satu jam. Bagaimana jika berjam-jam?
Berhari-hari?
Lalu muncul pertanyaan yang tak
pernah dijawab tuntas:
jika inflow danau menurun karena cuaca, mengapa outflow tetap dipertahankan
pada angka setinggi itu?
PLTA menyebut telah memprediksi
potensi penyusutan dan menyiapkan data sejak awal. Pernyataan ini disampaikan
dalam coffee morning pada Kamis (2/5/2026). Tapi jika prediksi itu benar,
mengapa tidak ada sosialisasi kepada masyarakat sebelum uji turbin dilakukan?
Mengapa warga yang hidup di sekitar danau yang paling terdampak tidak pernah
diberi tahu?
Transparansi macam apa yang baru
muncul setelah danau menyusut dan publik marah?
PLTA juga berdalih bahwa
penyusutan Danau Kerinci bukan fenomena baru. Data historis, kata dia,
menunjukkan danau pernah menyusut sebelumnya. Klaim ini terdengar rapi di atas
kertas, tetapi runtuh di lapangan.
Warga di sekitar Danau Kerinci
yang telah hidup puluhan tahun di sana menyampaikan kesaksian yang seragam, mereka
belum pernah melihat danau surut separah ini. Garis air mundur jauh, perahu
terdampar, aktivitas nelayan terganggu. Fakta-fakta ini tak tercermin dalam
grafik-grafik presentasi PLTA.
Di titik ini, penjelasan “faktor
cuaca” tak lagi cukup. Ia justru tampak seperti upaya menyederhanakan persoalan
kompleks, sekaligus menghindari evaluasi serius terhadap operasi pembangkit.
Selain sumber air bagi turbin, Danau
Kerinci juga ekosistem, ruang hidup dan sumber penghidupan ribuan warga. Ketika
danau menyusut drastis bersamaan dengan operasi uji turbin, publik berhak
curiga. Dan kecurigaan itu hanya bisa dijawab dengan audit hidrologi independen,
pembukaan data operasi secara penuh, dan evaluasi kebijakan yang jujur.
Jika tidak, satu pertanyaan akan
terus menggantung, siapa yang sebenarnya menguras air Danau Kerinci? Atau benar-benar
dihisap Naga seperti satire yang kerap menjadi bahan kelakar warga?

