BEKABAR.ID, KERINCI - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melontarkan kritik tajam terhadap dugaan praktik pengelolaan anggaran yang tidak transparan di Sekretariat DPRD Kabupaten Kerinci. Sorotan utama mengarah pada pos belanja rutin—khususnya anggaran makan dan minum rapat yang dinilai janggal.
Ketua PMII Kerinci–Sungai Penuh,
Mosri Efendi, menyebut pihaknya menerima laporan dari masyarakat yang kemudian
diperkuat dengan penelusuran internal organisasi. Hasilnya, kata dia,
mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara angka realisasi anggaran dan
kondisi faktual di lapangan.
“Kami menduga terdapat mark-up
atau permainan anggaran pada beberapa pos belanja, terutama pada kegiatan rutin
seperti makan dan minum rapat,” ujar Mosri.
Menurutnya, pola pengeluaran yang
berulang dan sulit diverifikasi secara terbuka menjadi celah yang rawan
disalahgunakan. PMII menilai, jika dugaan tersebut terbukti, maka praktik itu
bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan indikasi lemahnya akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan daerah.
PMII mengingatkan bahwa setiap
rupiah anggaran yang dikelola Sekretariat DPRD bersumber dari uang publik.
Karena itu, transparansi dan efisiensi bukan pilihan, melainkan kewajiban.
“Ketika anggaran rutin saja
dipertanyakan, publik berhak curiga pada pos-pos lainnya. Ini menyangkut
kepercayaan terhadap lembaga legislatif,” kata Mosri.
Organisasi mahasiswa itu juga
menegaskan komitmennya untuk mengawal isu ini hingga tuntas. Mereka mendorong
adanya audit terbuka serta klarifikasi resmi dari pihak Sekretariat DPRD
Kerinci guna menjawab dugaan yang berkembang.
Sebagai langkah lanjutan, PMII
membuka opsi menggelar aksi damai dan melaporkan temuan tersebut kepada lembaga
pengawas, termasuk aparat penegak hukum.
“Tidak boleh ada ruang bagi
praktik korupsi, sekecil apa pun. Kami akan terus mengawal agar pengelolaan
keuangan daerah berjalan bersih dan bertanggung jawab,” ujar Mosri.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Sekretariat DPRD Kabupaten Kerinci terkait tudingan tersebut. Publik kini menunggu, apakah klarifikasi akan segera diberikan atau dugaan ini akan mengendap tanpa jawaban.(*)

