BEKABAR.ID, JAMBI - Semenjak gelombang aksi besar-besaran mengguncang Jambi, sosok Gubernur Al Haris seperti ditelan bumi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran maupun upayanya menenangkan masyarakat. Padahal, rakyat sedang berteriak di jalanan, menyuarakan keresahan dan kekecewaan. Jangankan turun menemui massa, sekadar menampakkan batang hidungnya saja ia seolah tak berani.
Sikap diam dan menghindar ini membuat publik bertanya, di mana tanggung jawab moral seorang pemimpin? Di saat rakyatnya murka, justru Al Haris memilih menghilang dari pusaran konflik.
Pernyataan resmi Pemprov Jambi akan menyerahkan ke penegak hukum terkait kerusakan fasilitas umum pasca aksi pun bukan keluar dari mulutnya, melainkan dilimpahkan kepada Sekda Jambi, Sudirman.
Berbeda dengan Ketua DPRD Provinsi Jambi Hafiz Fatah, walau belum secara langsung menemui massa, setidaknya memiliki iktikad untuk bersuara. Ia berusaha mencairkan ketegangan dengan memberi pernyataan menyejukkan agar situasi tidak semakin panas. Kontras dengan Al Haris, yang justru mempertebal jarak antara rakyat dan pemimpinnya.
Aktivis Jambi, Askar Putra, ikut menyuarakan kekecewaannya. Ia menilai sikap Al Haris bukan hanya kelemahan kepemimpinan, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat. “Seorang pemimpin itu hadir di tengah gejolak, bukan justru sembunyi. Ini bukan hanya soal keberanian, tapi soal tanggung jawab. Al Haris telah gagal menunjukkan dirinya sebagai pemimpin,” tegas Askar.
Ia menambahkan, rakyat Jambi sudah cukup bersabar melihat sikap acuh gubernur selama Jambi bergejolak. “Jangan hanya berani bicara soal pembangunan di panggung formal, tapi ketika rakyat menjerit dan turun ke jalan, dia memilih kabur. Kalau Al Haris masih punya keberanian, besok di aksi lanjutan Jambi Jilid II, dia harus hadir, harus berdiri di depan massa, dan mendengar langsung apa yang menjadi jeritan rakyat,” demikian ucapnya.
Editor: Sebri Asdian