BWSS VI Sudah Ngaku, Gara-gara PLTA Air Danau Kerinci Menyusut

BWSS VI Sudah Ngaku, Gara-gara PLTA Air Danau Kerinci Menyusut

BEKABAR.ID, KERINCI - Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI Provinsi Jambi menjelaskan penurunan ketinggian (elevasi) muka air Danau Kerinci akibat uji coba turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) PT. Kerinci Merangin Hidro (KMH).

"Akibat uji operasional PT. KMH, yang menjalankan PLTA, sudah ada rapat diskusi uji coba pengaliran untuk pembangkit," kata Kepala BWSS VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra di Jambi, Selasa.

Ia menerangkan, uji coba turbin yang di lakukan perusahaan tersebut telah berjalan dari tanggal satu hingga 16 Januari lalu. Melalui pemberitahuan yang di layangkan perusahaan ke Kementerian PUPR. 

Dalam uji coba itu, PT. KMH mengoperasikan satu dari tiga turbin yang ada, dengan menurunkan ketinggian pintu air sekitar 20 centimeter (Cm).

Menurut Joni, penyusutan ketinggian muka air di Danau Kerinci turut di sebabkan oleh proses penguapan, serta berkurangnya suplai air yang masuk ke danau dari sungai-sungai alam yang bermuara ke kawasan tersebut. 

BWSS memastikan, pihak perusahaan akan bertanggung jawab terhadap daerah yang terdampak dari penyusutan muka air di danau seluas 4.200 hektar itu.

Lanjut dia, menyikapi hal itu, perusahaan memastikan akan menyediakan bak penampungan air (tandon), untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat yang terdampak.

"Air yang terlihat surut itu berada di pinggir danau, secara umum masih normal. Penyusutan bervariasi tergantung wilayah, berdasarkan laporan masyarakat ada yang mencapai satu meter," tambah dia.

Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi akan menjadi pendukung pasokan energi listrik untuk Pulau Sumatera.

Ia menaruh harapan PLTA tersebut segera beroperasi serta berkontribusi dalam mendukung energi di Pulau Sumatera.

Proyek tersebut memanfaatkan debit Sungai Merangin dan Danau Kerinci yang memiliki wilayah tangkapan air seluas 1.353 kilometer persegi dari dasar sungai.

PLTA Kerinci memiliki kapasitas nilai kelistrikan sebesar 350 megawatt. Dilengkapi dengan empat unit pembangkit, terdiri dari turbin berkapasitas 87,5 megawatt tipe vertical francis turbine, generator 103 mega volt ampere (MVA), dan 110 MVA main transformer 16,5 /150 kilovolt.

Sebelumnya penyusutan air Danau Kerinci menjadi perbincangan hangat warga Kabupaten Kerinci saat ini. Pasalnya kendati musim kemarau yang lebih ekstrim dari tahun 2026 ini, jika pun surut, air danau tak sesurut seperti kondisi sekarang.

Kendati sudah menjadi perbincangan hangat dan menimbulkan banyak dampak, pihak terkait belum memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Hal itu membuat Taufik, salah seorang warga sanggaran agung buka suara. Menurutnya, factor surutnya air danau secara signifikan itu karena dihisab oleh naga Danau. “Bisa jadi dihisap oleh naga danau,” ucapnya sambil berkelakar, Jumat (23/01/26).

Taufik yang sejak kecil tinggal di Sanggaran Agung ini menjelaskan, selama puluhan tahun dia hidup di Sanggaran Agung, belum pernah air danau kering seperti saat ini. “Seumur hidup saya, baru kali ini saya lihat kalau air danau surutnya seperti ini,” ujarnya.

Dampak yang dirasakan langsung saat ini, kata Taufik, masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di perairan. “Kalau sudah kering begini, masyarakat yang mencari kerang untuk dijual sebagai pemenuhan kebutuhan hidup itu tidak bisa lagi mencari kerang, ini tentu PR kita Bersama,” bebernya.

Selain itu belum lagi menurut Taufik dampaknya ke masyarakat yang menggantungkan hidup pada perangkap ikan yang biasa disebut Ahan. “Kalau air surut otomatis ahan tidak bisa digunakan, airnya tidak ada, bagaimana ikan mau masuk?” celutuknya.

Dia berpendapat, surutnya air danau ini bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga soal tata kelola. Absennya penjelasan dari otoritas berwenang menimbulkan pertanyaan, apakah fenomena ini murni akibat perubahan iklim, atau ada faktor lain yang luput dari pengawasan, seperti alih fungsi lahan, eksploitasi sumber air, atau pengelolaan kawasan danau yang abai terhadap daya dukung lingkungan.

Dia meminta agar segera melakukan kajian terbuka dan menyeluruh. Tanpa langkah cepat dan transparan, penyusutan Danau Kerinci berpotensi meluas menjadi krisis sosial dan ekonomi. Sektor perikanan, mata pencaharian warga, hingga pariwisata di sekitar danau terancam lumpuh.

“Kalau dibiarkan berlarut-larut, yang kering bukan hanya danaunya, tapi juga kehidupan masyarakat di sekitarnya,” kata Taufik.

Dia berharap pihak terkait segera mengkaji faktor terjadinya fenomena ini, agar Solusi segera ditemukan. “Sebelum dampaknya lebih luas, sebaiknya solusi harus segera dicari. Karena banyak sektor yang akan terdampak, termasuk sektor wisata yang berada disekeliling danau,” tukas Taufik. 

Editor: Sebri Asdian