Aneh, Spanduk Tarif Parkir di Danau Kerinci Tersobek Rapi, Sengaja Dibiarkan dan Ada Kongkalikong?

Aneh, Spanduk Tarif Parkir di Danau Kerinci Tersobek Rapi, Sengaja Dibiarkan dan Ada Kongkalikong?

BEKABAR.ID, KERINCI - Spanduk tarif parkir resmi milik Dinas Perhubungan (Dishub) di gerbang masuk dermaga kawasan wisata Danau Kerinci tampak tak lagi utuh. Pantauan bekabar.id pada Sabtu (28/03/25), bagian yang memuat angka-angka tarif justru hilang robek tak berbekas. Yang tersisa hanya poin-poin dasar peraturan daerah. Potongan yang lenyap itu menimbulkan satu kesan, ini bukan sekadar rusak, tapi diduga disengaja.

Letak spanduk itu bukan di sudut sepi. Ia terbentang di jalur strategis, pintu masuk utama bagi siapa pun yang hendak menikmati danau. Ukurannya besar, mustahil luput dari pandangan. Namun, justru di titik yang paling mudah diawasi itu, informasi krusial malah raib.

Doni, salah seorang pengelola, mengaku tidak mengetahui ihwal kerusakan tersebut. “Dak tau jugo bang, cubo tanyo orang yang jago parkir bang,” ujarnya ketika dikonfirmasi bekabar.id, Sabtu (28//03/26).

Ia juga menyebut tidak ada koordinasi terkait kondisi spanduk, meski di saat yang sama mengaku sudah mendengar kabar akan dibuatkan yang baru. Pernyataan yang setengah terbuka, setengah janggal.

Ketika ditanya sejak kapan spanduk itu robek, Doni kembali mengaku tak tahu. “Dak tau jugo tuh, kabar nyo sudah robek,” katanya.

Keterangan itu berseberangan dengan pernyataan Kepala Dinas Perhubungan Kerinci, Juanda Sasmita. Ia memastikan pihaknya telah lebih dulu memberi tahu pengelola, termasuk Doni, bahkan sebelum Idul Fitri. “Kejadiannya satu hari sebelum Idul Fitri. Kami ingatkan dan tegur penanggung jawab pihak ketiga,” ujarnya.

Juanda menyayangkan insiden tersebut. Menurut dia, spanduk itu dipasang sebagai rujukan resmi bagi pengunjung dan pedoman bagi petugas di lapangan. Hilangnya informasi tarif berpotensi membuka ruang tafsir, atau bahkan penyimpangan.

Didesak soal perbedaan keterangan, Doni kemudian berkilah mengubah penjelasannya. Ia mengaku sempat berupaya membuat spanduk baru, namun terkendala suasana libur Lebaran. “Siap, kami pernah pergi untuk bikin baru, tapi tempatnya tutup. Mungkin sekarang sudah buka. Kalau itu kelalaian kami, siap kami bikin sekarang,” katanya.

Namun, soal siapa yang merobek, Doni tetap bergeming.

Askar Putra, aktivis Kerinci, menilai kasus ini tak bisa dianggap sepele. “Robeknya bagian tarif itu bukan kebetulan. Itu inti informasi untuk publik. Kalau yang hilang justru angka-angka, patut diduga ada kepentingan yang ingin mengaburkan transparansi,” katanya.

Ia mendesak Dishub dan pemerintah daerah mengusut tuntas peristiwa tersebut, termasuk mengevaluasi pengelolaan parkir oleh pihak ketiga. “Ini soal akuntabilitas. Jangan sampai ruang publik dikelola tanpa kejelasan aturan yang bisa diakses masyarakat,” ujar Askar.

Hanya saja, lanjut dia, logikanya dengan posisi spanduk yang tinggi dan robekan yang rapi, tidak memungkinkan seseorang merobeknya tanpa alat.

"Selain itu, siapa yang berani merobek spanduk terang-terangan menggunakan tangga dan pisau kalau bukan orang lingkaran pengelola?," ucapnya curiga.

Hingga kini, siapa yang merobek spanduk itu masih menjadi tanda tanya. Yang pasti, ketika informasi resmi hilang di ruang publik, yang tersisa bukan hanya kain yang sobek, melainkan juga celah bagi praktik yang tak terlihat.

Apakah robeknya tarif parkir mempengaruhi tarif parkir yang dikenakan kepada pengunjung di danau kerinci?

Apalangkah Dishub dalam menyikapi hal ini?

Kita kupas selanjutnya di bekabar.id

Editor: Sebri Asdian