BEKABAR.ID, KERINCI - Menyusutnya
air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir akhirnya menemukan penjelasan.
Atau lebih tepatnya serangkaian alasan.
Di tengah kegelisahan warga yang
melihat danau ikonik itu surut hingga menyisakan tepian berlumpur, pengelola Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci Hidro Merangin (KMH) memilih
muncul ke permukaan dengan narasi yang rapi dan tentu saja, bersih dari noda.
Dalam hearing bersama DPRD
Kerinci pada Selasa (03/01/26) Humas PLTA Asroli mengakui bahwa pada 1 sampai
dengan 15 Januari 2026 pihaknya memang melakukan uji coba turbin. Sebuah
pengakuan yang langsung disertai pagar pengaman, aktivitas itu, katanya, tidak
bisa dituding sebagai penyebab utama menyusutnya air danau.
Menurut Asroli, alam lebih layak
dimintai pertanggungjawaban.
Curah hujan di Kerinci disebut
sedang “tidak bersahabat” lebih rendah dari normal, bahkan di saat kalender
klimatologi masih menandai wilayah ini sebagai kawasan basah. Sungai Batang
Merao dan sungai-sungai penyangga lain pun dituding gagal mengirim pasokan air
yang memadai ke Danau Kerinci.
Akibatnya, danau tak terisi
optimal. Turbin boleh berputar, tapi hujan yang absen dianggap biang keladi.
Belum cukup sampai di situ,
penjelasan kemudian melebar ke langit yang lebih jauh. Asroli menyebut adanya
rekayasa cuaca di Sumatera Barat yang diduga ikut mengacak pola hujan regional termasuk
Kerinci. Dengan kata lain, jika hujan tak turun, penyebabnya bisa datang dari
mana saja. Yang jelas, bukan dari ruang mesin PLTA.
“Secara iklim, Kerinci seharusnya
masih berada dalam fase basah,” kata Asroli.
Selain itu dia juga memastikan PLTA
berada di posisi aman, dengan menyebut berbagai Upaya yang telah dilaksanakan. “Pemantauan
hidrologi dilakukan, koordinasi lintas instansi berjalan, dan keseimbangan
lingkungan tetap menjadi perhatian,” beber dia.
Pada saat itu, anggota DPRD
Kerinci, Adi Purnomo, mengatakan langkah lapangan akan dilakukan bersama
organisasi perangkat daerah (OPD) dan pihak terkait untuk memastikan faktor
penyebab surutnya air Danau Kerinci.
“Setelah kita turun, baru ada
kesepakatan-kesepakatan,” ujar Adi dalam rapat dengar pendapat di Gedung DPRD
Kerinci, Selasa (3/2).
Senada, Wakil Ketua DPRD Kerinci,
Boy Edwar, memastikan lembaganya akan mengambil langkah konkret. Ia telah
meminta Sekretariat DPRD berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk
menjadwalkan peninjauan langsung ke Danau Kerinci serta lokasi operasional PLTA.
“Kami ingin melihat langsung
kondisi di lapangan. Setelah itu, kita rumuskan langkah nyata demi kepentingan
masyarakat,” katanya.
Anggota DPRD Kerinci lainnya,
Irwandi, menilai persoalan ini tidak bisa dilihat secara sektoral. Menurutnya,
penyusutan Danau Kerinci menyentuh sektor perikanan, pertanian, hingga
pariwisata yang selama ini menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Danau Kerinci adalah sumber
penghidupan sekaligus aset wisata. Kita harus menelusuri akar persoalannya agar
kejadian serupa tidak terus berulang,” ujar Irwandi.
Editor: Sebri Asdian

