BEKABAR.ID, KERINCI - Permukaan air Danau Kerinci menunjukkan penyusutan yang tidak biasa dalam beberapa hari terakhir. Di sejumlah titik, badan danau tampak mengering, terutama di kawasan Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci. Pulau-pulau kecil yang sebelumnya terendam air kini bermunculan di sekitar bibir danau, menandai turunnya volume air secara signifikan.
Penyusutan ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup dari danau. Alat tangkap ikan tradisional yang dikenal dengan sebutan ahan tidak lagi dapat digunakan. Ahan umumnya dipasang di perairan dangkal yang tergenang, namun surutnya air membuat alat tersebut berada di atas permukaan tanah.
“Biasanya ahan itu terendam air. Sekarang airnya jauh surut, jadi tidak bisa dipakai sama sekali,” kata Amin, warga Desa Sanggaran Agung yang memiliki sejumlah ahan di sekitar danau. Menurut dia, kondisi seperti ini jarang terjadi, bahkan dibandingkan dengan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya.
Indikasi penyusutan juga terlihat pada alat ukur kedalaman air di bawah jembatan Danau Kerinci. Ketinggian air tercatat berada di bawah 0,5 meter, jauh lebih rendah dari kondisi normal. Di beberapa bagian danau, air terlihat terputus-putus, menyisakan hamparan lumpur dan tanah yang mengering.
Di hilir danau, aliran sungai ke arah Desa Pulau Pandan tampak sangat kecil. Kondisi ini berbanding terbalik dengan aliran Sungai Tanjung Merindu yang dikelola oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Perbedaan debit air di dua aliran tersebut kembali menjadi perhatian warga, mengingat beberapa waktu lalu masyarakat Pulau Pandan sempat melakukan aksi protes terkait pengelolaan aliran sungai.
Hingga kini, penyebab surutnya air Danau Kerinci belum dapat dipastikan. Bisa jadi kondisi ini berkaitan dengan awal musim kemarau maupun faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan air danau dan aliran sungai di sekitarnya.
Editor: Sebri Asdian

