Penulis :
- Muhammad Amin, S.H., M.H.
- ?Staff Pengajar Fakultas Hukum Universitas Jambi
- ?Pengurus Iluni UI Wilayah Jambi
- ?Pengurus Majelis Wilayah KAHMI Provinsi Jambi
- ?Pengurus MUI Kota Jambi
- ?Pengurus LBH Muhammadiyah Jambi
Penulis beserta tim saat mengunjungi Sumatera Barat ke beberapa titik lokasi yg terdampak Bencana Alam melihat langsung bagaimana masyarakat sangat mengalami trauma yg mendalam dikarenakan ;
1. Banyaknya Keluarga yg meninggal menjadi Korban Bencana Alam
2. ?Masih ada Keluarga yang hilang belum di temukan saat ini
3. ?Rumah hancur porak poranda
4. ?Hewan ternak lenyap disapu Banjir
5. ?Berbagai Akses terputus total khususnya di daerah Terpencil yang sulit di jangkau
6. ?Air bersih, PLN, Internet dan media komunikasi tidak dapat digunakan
7. ?Fasiltas Kesehatan, Pendidikan dan fasilitas umum lainnya masih terkendala
8. ?Dibeberapa titik lokasi masih ada sisa2 Pohon yang belum dibersihkan khususnya daerah pantai
9. Adanya Bantuan Pemerintah namun belum secara menyeluruh dapat dirasakan.
Berdasarkan data dari BNPB mencatat korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bertambah menjadi 1.135 orang. Selain itu, ada 489,6 ribu orang yang masih mengungsi(BNPB, Jum’at 26 Desember 2025)
Adapun Jalan terputus Utama ruas nasional(terputus), lembah anai, jalan utama ruas provinsi(terputus) Malalak dan beberapa akses antar Kabupaten lainnya juga terputus.
Kita semua mengetahui Republik Indonesia sekarang ini sangat diperhitungkan oleh Dunia dari berbagi aspek kehidupan, Semua itu terjadi(Kemajuan Republik Indonesia) Tidak terlepas dari peran para Tokoh Bangsa yang berasal dari Sumatera Barat seperti ; Mohammad Hatta(Bung Hatta Wakil Presiden Pertama Indonesia) Tuanku Imam Bonjol, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Mohammat Natsir, Abdul Muis, Ruhana Kuddus, dan masih banyak yang lainnya.
Namun Penulis melihat ada Daerah Asal Tokoh Bangsa bahkan Dunia yg berasal dari Sumbar khususnya dari tanah Sirah Nagari Sungai Batang Kabupaten Agam Maninjau yang bernama Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) yang kampung halamannya juga tidak luput terdampak bencana.
Masyarakat setempat mengalami trauma sangat berat dengan kondisi daerahnya lumpuh akibat bencana alam yang terjadi.
Berbagai bantuan datang baik dari Pemerintah, Relawan dan pihak2 lainnya yang ingin berperan atas penderitaan Masyarakat, namun masih saja Bantuan tersebut belum dapat maksimal dirasakan oleh seluruh Warga karena keterbatasan ketersediaan bahan-bahan yang di butuhkan.
Jika saja Pemerintah Pusat(Presiden) menetapkan Status Bencana ini menjadi Status Bencana Nasional maka dapat dipastikan Masyarakat tidak akan mengalami penderitaan yang panjang dan mendalam.
Tanah Sumbar yang terkenal dengan Slogan "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" adalah falsafah inti masyarakat Minangkabau yang berarti adat bersendikan syariat Islam, dan syariat Islam itu sendiri bersendikan Al-Qur'an (Kitabullah), menegaskan bahwa segala adat dan kehidupan harus berlandaskan pada ajaran agama Islam dan Al-Qur'an, serta dilengkapi dengan ungkapan lengkapnya "syarak mangato adat mamakai" (syariat berkata, adat memakai).
Dengan Slogan tersebut sebenarnya Masyarakat Sumbar adalah masyarakat paling Taat dan paling Tertib dalam keadaan normal, namun Peristiwa Bencana Alam yang terjadi membuat masyarakat Sumbar kecewa dengan Pemerintah Pusat(Presiden) terhadap kebijakan dan solusi untuk mengatasi Problem yang terjadi.
Masyarakat daerah yang terdampak hanya meminta kehidupan yang normal seperti biasanya kepada Pemerintah, seharusnya atas nama Negara yang menjamin kehidupan Rakyat yang layak untuk mempertahankan kehidupannya sudah saatnya Pemerintah Pusat(Presiden) menetapkan status bencana alam menjadi Status Bencana Nasional.
Semoga Bencana Alam ini memberikan kita semua Ikhtibar baik secara sosial, hukum maupun secara bernegara yang baik dan benar.


