Hey Wo Haris, Apa Cerita Jalan Renah Pemetik yang Engkau Janjikan Saat Partisun Dulu

Hey Wo Haris, Apa Cerita Jalan Renah Pemetik yang Engkau Janjikan Saat Partisun Dulu

BEKABAR.ID, KERINCI - Janji tinggal janji. Hampir setahun setelah dilontarkan, komitmen Gubernur Jambi, Al Haris, untuk memperbaiki akses jalan di wilayah Kerinci kembali dipertanyakan warga.

Pernyataan itu disampaikan Al Haris saat kegiatan Perjalanan Pejabat Tidur di Dusun (Pertisun) Pemerintah Provinsi Jambi 2025 di Desa Pasir Jaya, Kecamatan Siulak Mukai, Senin, 5 Mei 2025. Di hadapan warga, ia menjanjikan perbaikan infrastruktur jalan pada 2026.

“Insya Allah pada tahun 2026 ini kita perbaiki bersama dengan Kabupaten Kerinci,” kata Al Haris kala itu.

Namun memasuki 2026, warga di sejumlah desa justru masih bergelut dengan kondisi jalan yang rusak parah. Lubang menganga, badan jalan berlumpur saat hujan, dan akses distribusi hasil pertanian yang tersendat menjadi pemandangan sehari-hari. Janji perbaikan yang sempat membangkitkan harapan kini berubah menjadi bahan keluhan.

Saat itu, dalam pidatonya, Al Haris mengaitkan pembangunan jalan dengan agenda besar nasional. Ia menyebut program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai landasan pembukaan akses ekonomi di daerah.

“Sudah jelas sumber-sumber ekonomi yang bisa dibuka aksesnya harus dibuka selebar-lebarnya,” ujarnya.

Ia bahkan menekankan potensi besar wilayah tersebut. Lahan pertanian yang luas, menurutnya, bisa menjadi motor penggerak ekonomi jika didukung infrastruktur memadai. “Petani kita masih memungkinkan mengembangkan akses ekonominya. Hasilnya bisa mereka jual ke Jambi dengan harga murah. Kalau dibanding saat ini, ongkosnya mahal karena jalan kita sangat jelek sekali,” kata dia.

Pernyataan itu kini terasa ironis. Kondisi jalan yang “sangat jelek sekali” seperti yang diakui sendiri oleh gubernur, hingga kini belum menunjukkan perbaikan signifikan. Biaya angkut hasil panen tetap tinggi, margin petani tergerus, dan akses pasar tetap terbatas.

Sejumlah warga mulai angkat suara. Ari, salah seorang petani mengaku sudah terlalu sering mendengar janji serupa. “Setiap ada pejabat datang, selalu bilang jalan akan diperbaiki. Tapi sampai sekarang kami masih lewat jalan yang sama, rusak dan berlumpur,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Susilawati, warga yang menggantungkan ekonominya di Renah Pemetik. Ia menilai janji pemerintah belum menyentuh kebutuhan mendesak masyarakat. “Kami ini tidak minta yang muluk-muluk. Cuma jalan yang layak supaya hasil tani bisa cepat sampai ke pasar. Sekarang ongkos mahal, harga jual jadi turun,” katanya.

Bahkan dia menyebut kondisi ini sebagai ujian keseriusan pemerintah. “Kalau memang serius mau bantu petani, ya buktikan dengan perbaikan jalan. Jangan cuma datang, lihat-lihat, lalu janji,” ujarnya.

Asal tahu saha, Al Haris juga sempat mengaitkan pembangunan jalan dengan target ketahanan pangan nasional. Ia optimistis, perbaikan akses di tiga desa akan berdampak langsung pada peningkatan produksi dan distribusi hasil pertanian. “Kalau jalannya sudah bagus, bisa mendukung ketahanan pangan, sesuai target pak presiden,” tukasnya.

Editor: Sebri Asdian