BEKABAR.ID, KERINCI - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kerinci kembali menjadi sorotan. Sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi disebut belum seluruhnya memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Fakta tersebut memunculkan
pertanyaan terkait mekanisme pengawasan dan kelayakan dapur sebelum menjalankan
program yang menyasar ribuan pelajar di Kabupaten Kerinci.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG
Kabupaten Kerinci, Nopal, mengakui masih ada sejumlah dapur yang perlu
dilakukan pembenahan, meski kondisi saat ini disebut terus mengalami perbaikan.
"Kalau dibilang semua
(dapur) belum memenuhi standar, tidak juga. Alhamdulillah sekarang sudah mulai
membaik karena peraturannya banyak mengalami perubahan untuk kebaikan,"
kata Nopal saat dikonfirmasi bekabar.id, beberapa waktu yang lalu.
Saat ditanya apakah ada dapur
yang telah beroperasi sebelum memenuhi standar, Nopal menjelaskan kondisi
tersebut berkaitan dengan tahap percepatan program yang dimulai sejak 2025.
Menurutnya, pada tahap awal
pelaksanaan program, jumlah dapur yang beroperasi masih sangat terbatas karena
sulitnya mencari investor yang bersedia membangun fasilitas dapur MBG.
"Kalau di Kerinci, kami
membaguskan dapur dulu baru bisa jalan. Kecuali dapur yang sudah berjalan di
tahun 2025, itu pun hanya empat sampai lima dapur karena saat itu masuk tahap
percepatan. Dulu memang susah mencari investor yang mau membangun dapur,"
ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini
persyaratan operasional dapur telah diperketat sebelum diizinkan beroperasi.
Beberapa persyaratan yang wajib
dipenuhi di antaranya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas
Kesehatan, sertifikasi penjamah makanan, uji kelayakan air, hingga kelengkapan
infrastruktur bangunan.
"Sekarang kami perketat.
Sebelum running, ada persyaratan yang harus dipenuhi seperti SLHS dari Dinkes,
penjamah makanan, uji layak air dan infrastruktur bangunan," jelasnya.
Namun, ketika ditanya terkait
keberadaan dapur yang sempat disuspend atau dihentikan sementara
operasionalnya, Nopal tidak memberikan tanggapan.
Kondisi ini pun memunculkan
kritik dari sejumlah kalangan. Aktivis Kerinci, Edo, meminta pemerintah dan
pihak pengelola program lebih terbuka kepada publik terkait kondisi riil dapur
MBG yang beroperasi di Kerinci.
Menurutnya, masyarakat berhak
mengetahui apakah dapur yang mendistribusikan makanan kepada siswa benar-benar
telah memenuhi standar kesehatan, sanitasi dan keamanan pangan.
"Jangan sampai program yang
tujuannya baik justru menimbulkan persoalan baru karena aspek pengawasan
diabaikan. Kalau memang ada dapur yang belum memenuhi standar, harus
disampaikan secara terbuka kepada masyarakat," kata Edo.
Ia menilai pemerintah tidak boleh
hanya fokus pada percepatan pelaksanaan program, tetapi juga harus memastikan
seluruh persyaratan teknis dipenuhi sebelum dapur beroperasi.
"Keselamatan dan kesehatan
anak-anak penerima manfaat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai ada
kesan program dipaksakan berjalan, sementara standar kelayakan baru dipenuhi di
tengah jalan," tegasnya.
Edo juga mendesak adanya audit
menyeluruh terhadap seluruh dapur MBG yang beroperasi di Kabupaten Kerinci dan
Kota Sungai Penuh.
Menurutnya, audit penting
dilakukan untuk memastikan tidak ada fasilitas yang beroperasi tanpa memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan.
"Kalau sekarang persyaratan
diperketat, berarti publik juga berhak bertanya bagaimana kondisi dapur yang
sudah lebih dulu beroperasi. Apakah semuanya sudah memenuhi standar atau belum.
Ini yang harus dijelaskan secara transparan," tukasnya.
Editor: Sebri Asdian
Ilustrasi AI genered bekabar.id 
