BEKABAR.ID, KERINCI - Ajang balap motor bertajuk Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 yang digelar di kawasan Lahar Dingin, Desa Sungai Rumpun, Kecamatan Kayu Aro, semula gencar dipromosikan sebagai event otomotif bergengsi yang akan mengangkat nama Kerinci ke tingkat Nasional, bahkan Internasional.
Namun setelah panggung ditutup dan ribuan penonton pulang, yang tersisa justru gelombang pertanyaan, keluhan, dan tudingan bahwa masyarakat telah digiring oleh promosi bodong alias penipuan.
Nama Kerinci dan nama Bupati Kerinci terpampang besar dalam berbagai materi promosi. Branding daerah digunakan secara masif, seolah acara tersebut merupakan representasi resmi pemerintah daerah. Namun informasi yang dihimpun menunjukkan kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri oleh seorang promotor yang bernama Adi Purnomo.
Fakta itu memunculkan kritik dari sejumlah kalangan. Mereka mempertanyakan mengapa nama daerah dan kepala daerah begitu dominan digunakan dalam promosi, sementara keuntungan dari penyelenggaraan acara diduga dikelola oleh pihak penyelenggara secara mandiri.
Polemik tidak berhenti di sana, sejumlah penonton mengaku kena kelabui saat membeli tiket dengan keyakinan bahwa mereka berkesempatan mengikuti undian doorprize sebagaimana yang tertera pada tiket. Namun hingga event berakhir, doorprize yang dijanjikan disebut tidak pernah diumumkan apalagi dibagikan.
Keluhan itu ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pengunjung merasa ada ketidaksesuaian antara promosi dan realisasi di lapangan.
"Kalau memang tidak ada doorprize, kenapa dicantumkan dalam promosi? Kalau ada, mana pembagiannya? Ini jelas penipuan namanya," kata salah seorang sumber, Selasa (02/06/26).
Sebelumnya, kontroversi terbesar muncul saat pembagian hadiah kepada para pemenang balapan.
Dalam brosur dan materi promosi yang tersebar luas sebelum perlombaan, panitia menjanjikan hadiah berupa satu unit mobil Grand Max, tiga unit sepeda motor Yamaha, serta hadiah uang tunai hingga ribuan dolar Amerika Serikat.
Promosi tersebut menjadi daya tarik utama yang membuat banyak pembalap dari berbagai daerah ikut ambil bagian.
Namun ketika hadiah dibagikan, muncul fakta yang memantik kekecewaan. Mobil dan sepeda motor yang selama ini diasumsikan masyarakat sebagai kendaraan baru ternyata diketahui merupakan kendaraan bekas.
Tak hanya itu, hadiah uang yang dalam brosur disebut mencapai 3.000 dolar Amerika Serikat disebut tidak diberikan sesuai angka yang dipromosikan. Pemenang awalnya dikabarkan hanya menerima hadiah sekitar Rp17 juta.
Persoalan itu kemudian menjadi perbincangan luas di media sosial. Setelah ramai dikritik publik, hadiah tersebut akhirnya disebut disesuaikan hingga mencapai Rp 50 juta.
Di luar persoalan hadiah, pengunjung juga mengeluhkan tarif parkir yang dinilai tidak wajar.
Untuk kendaraan roda empat, tarif parkir disebut berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu. Sedangkan kendaraan roda dua dikenakan biaya antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.
Tarif tersebut dianggap jauh melampaui standar parkir pada umumnya untuk kegiatan hiburan atau olahraga di daerah.
Ironisnya, setelah membeli tiket masuk dan membayar parkir, pengunjung masih dibebani biaya penggunaan toilet.
Untuk sekali masuk toilet, pengunjung dewasa dikenakan tarif Rp 10 ribu, sementara anak-anak Rp 5 ribu.
Kebijakan itu menjadi bahan perbincangan dan sindiran di media sosial. Banyak yang menilai event olahraga yang seharusnya menjadi sarana hiburan masyarakat justru berubah menjadi ladang pungutan dari berbagai sisi.
Aktivis Kerinci Murdani menyebutkan, rangkaian persoalan tersebut telah mencoreng citra daerah yang selama ini berusaha membangun sektor pariwisata dan event olahraga.
"Yang dijual itu nama Kerinci. Yang dipasang besar-besar itu nama Bupati Kerinci. Tapi ketika muncul masalah, masyarakat justru bertanya siapa yang bertanggung jawab. Jangan sampai nama daerah dipakai sebagai etalase promosi, sementara keuntungan berjalan ke kantong pribadi dan ketika muncul polemik publik yang menanggung kekecewaannya," jelasnya, Selasa (02/06/26).
Menurutnya, promosi yang tidak sesuai realisasi berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan event besar di masa depan.
"Kalau masyarakat membeli tiket karena dijanjikan doorprize, lalu doorprize tidak ada, itu penipuan namanya. Kalau hadiah dipromosikan seolah kendaraan baru ternyata bekas, itu juga nipu. Kalau angka hadiah berbeda dengan yang dipublikasikan, itu juga nipu. Semua mungkin bisa dijelaskan satu per satu, tetapi ketika semuanya muncul dalam satu event, publik berhak curiga bahwa ada yang tidak beres dalam tata kelola penyelenggaraannya," tegasnya.
"Artinya perhelatan ini sukses besar kelabui masyarakat Kerinci," ucapnya menambahkan.
Sementara itu, saat dikonfirmasi bekabar.id terkait polemik hadiah, promotor acara Adi Purnomo mengaku persoalan tersebut hanya terjadi karena kesalahan perhitungan. "Ada salah paham perhitungan, sudah clear," ujarnya, Senin (1/6/2026).
Namun anggota DPRD Kabupaten Kerinci dari PDIP itu tidak memberikan tanggapan terkait sorotan publik mengenai kendaraan bekas yang dijadikan hadiah maupun tarif penggunaan toilet yang menjadi keluhan pengunjung.
Editor: Sebri Asdian


