BEKABAR.ID, KERINCI – Pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kerinci kini tak hanya disorot soal penguasaan belasan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh sejumlah yayasan. Namun mulai mengarah pada dugaan adanya sosok berpengaruh yang disebut-sebut berada di belakang pengelolaan program prioritas Prabowo tersebut.
Nama Ario, pengelola salah satu
yayasan yang terlibat dalam program MBG di Kerinci, menjadi perbincangan
setelah muncul informasi bahwa dia mempunyai hubungan keluarga dengan seorang
pejabat yang bekerja di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara
(Kemensetneg). Kedekatan itulah yang kini menjadi bahan pertanyaan publik,
terutama terkait bagaimana sejumlah dapur MBG di Kerinci dapat dikelola oleh
kelompok yayasan yang diduga saling berkaitan.
Sejumlah sumber menyebut,
penguasaan dapur MBG di Kerinci tidak berdiri sendiri. Ada dugaan pola
pengelolaan yang melibatkan beberapa yayasan berbeda namun masih berada dalam
satu lingkaran relasi yang sama.
"Yang menjadi pertanyaan
publik bukan sekadar soal yayasan. Tapi apakah ada pengaruh kekuasaan atau
kedekatan dengan elite pusat yang membuat kelompok tertentu bisa mendapatkan
posisi dominan dalam pengelolaan dapur MBG di Kerinci," ujar seorang
sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Sabtu (13/06/26).
Program MBG merupakan salah satu
program prioritas nasional yang mendapat perhatian langsung pemerintah pusat.
Karena itu, setiap proses penunjukan yayasan maupun mitra pengelola seharusnya
berjalan secara transparan, terbuka, dan bebas dari praktik konflik
kepentingan.
Di tengah besarnya anggaran yang
berputar dalam program tersebut, munculnya dugaan keterlibatan keluarga pejabat
pusat menjadi isu yang sulit diabaikan. Apalagi, informasi yang beredar
menyebut terdapat tiga yayasan yang diduga memiliki keterkaitan dan menguasai
sejumlah dapur SPPG di Kabupaten Kerinci.
Meski demikian, hingga kini belum
ada bukti yang menunjukkan adanya pelanggaran hukum ataupun campur tangan
pejabat tertentu dalam proses pengelolaan dapur MBG. Namun, menurut sejumlah
kalangan, dugaan tersebut tetap perlu diuji melalui keterbukaan data dan
penjelasan resmi dari pihak terkait.
Saat dikonfirmasi, Ario mengakui
dirinya mengelola Yayasan Karya Kita Peduli Kerinci yang terlibat dalam program
MBG. Ia juga menegaskan seluruh kegiatan berjalan sesuai petunjuk teknis yang
berlaku.
"Kami ikut juknis. Satu
yayasan maksimal mengelola 10 dapur," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai dugaan
yayasan mengerjakan sendiri pekerjaan yang semestinya dijalankan mitra, Ario
membantah.
"Yang mengelola mitra, bukan
yayasan," katanya.
Sementara itu, seorang pria
berinisial D yang namanya juga disebut-sebut dalam informasi yang beredar
membantah tuduhan adanya keterkaitan sebagaimana yang berkembang di masyarakat.
"Tak benar itu, Bang. Banyak
yayasan di Kerinci. Aku juga tidak kenal," katanya.
Sementara, Aktivis Kerinci, Dedek
Eko Pratama, menilai isu yang berkembang tidak boleh berhenti pada bantahan
semata. Menurutnya, publik berhak mengetahui secara jelas siapa pihak-pihak
yang berada di balik yayasan yang mengelola program MBG.
"Kalau memang tidak ada
hubungan kepentingan dan tidak ada campur tangan pihak-pihak yang memiliki
akses kekuasaan di pusat, maka buka saja semuanya secara transparan. Siapa
pengurus yayasannya, siapa mitranya, bagaimana proses mendapatkan dapur, dan
apakah ada hubungan keluarga dengan pejabat tertentu," kata Dedek.
Menurutnya, keterbukaan penting
dilakukan untuk menghindari munculnya persepsi bahwa program negara hanya
dinikmati kelompok tertentu yang memiliki akses dan kedekatan dengan kekuasaan.
"MBG ini program untuk
rakyat. Jangan sampai publik melihat ada kesan bahwa yang mendapat kesempatan
mengelola justru orang-orang yang punya jalur khusus ke pusat. Kalau memang
bersih, buktikan dengan data dan transparansi," tegasnya.
Kini, sejumlah pertanyaan masih
menggantung. Benarkah hubungan keluarga dengan pejabat di lingkungan
Kemensetneg tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap pengelolaan dapur MBG di
Kerinci? Mengapa sejumlah dapur disebut-sebut terkonsentrasi pada yayasan yang
diduga saling berkaitan? Dan sejauh mana pemerintah melakukan pengawasan
terhadap potensi konflik kepentingan dalam program bernilai miliaran rupiah
tersebut?
Hingga berita ini diturunkan,
belum ada penjelasan resmi dari instansi berwenang mengenai isu dugaan relasi
keluarga dengan pejabat pusat maupun keterkaitannya dengan pengelolaan belasan
dapur MBG di Kabupaten Kerinci. Namun satu hal yang pasti, semakin besar
program dan anggaran yang dikelola, semakin besar pula tuntutan publik terhadap
transparansi dan akuntabilitas.
Editor: Sebri Asdian
Ilustrasi AI genered bekabar.id 

