BEKABAR.ID, KERINCI - Sorotan terhadap penggunaan anggaran
di Sekretariat DPRD Kerinci kembali mencuat. Kali ini, Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII) Kerinci–Sungai Penuh mengkritik besarnya anggaran
perjalanan dinas DPRD Kabupaten Kerinci yang disebut mencapai lebih dari Rp6,1
miliar dalam APBD tahun berjalan.
Bagi PMII, angka miliaran rupiah itu menjadi potret kontras
di tengah kondisi infrastruktur daerah yang masih jauh dari kata layak.
Jalan-jalan rusak di sejumlah wilayah belum kunjung mendapatkan perhatian
serius, sementara anggaran perjalanan dinas justru mengalir besar.
Ketua III PMII Kerinci, Farago Al Kalano, menilai arah
penggunaan anggaran daerah mulai kehilangan sensitivitas terhadap kebutuhan
mendasar masyarakat. Menurutnya, pemerintah dan DPRD seharusnya menempatkan
pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama, bukan justru membebani APBD
dengan belanja perjalanan yang dinilai tidak mendesak.
“Di tengah kondisi jalan yang masih rusak dan belum
mendapatkan perhatian, kami justru melihat anggaran perjalanan dinas DPRD
mencapai miliaran rupiah. Ini menjadi ironi bagi masyarakat,” ujarnya, Jumat (15/05/26).
PMII secara khusus menyoroti kondisi Jalan Renah Pemetik
yang hingga kini belum tersentuh pembangunan memadai. Jalan tersebut disebut
menjadi urat nadi aktivitas masyarakat, terutama bagi petani yang
menggantungkan distribusi hasil kebun dan pertanian melalui akses tersebut.
Namun bertahun-tahun, keluhan warga disebut hanya berputar di meja rapat tanpa
kepastian realisasi pembangunan.
Saat musim hujan tiba, akses jalan berubah menjadi lumpur
dan sulit dilalui kendaraan. Kondisi itu bukan hanya menghambat mobilitas
warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap roda ekonomi masyarakat desa. Di
sisi lain, anggaran perjalanan dinas tetap muncul dalam angka fantastis di
dokumen APBD.
“Jalan Renah Pemetik sangat dibutuhkan masyarakat untuk
mobilitas hasil pertanian dan aktivitas sehari-hari. Namun sampai sekarang
belum ada kejelasan anggaran pembangunan. Sementara perjalanan dinas justru
dianggarkan sangat besar,” katanya.
Kritik PMII bukan sekadar soal angka perjalanan dinas,
melainkan menyangkut cara pemerintah daerah menentukan skala prioritas.
Organisasi mahasiswa itu menilai APBD seharusnya menjadi instrumen untuk
menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan terjebak pada belanja birokrasi yang
manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh publik.
Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Kerinci dan DPRD
melakukan evaluasi menyeluruh terhadap postur anggaran agar lebih berpihak pada
kepentingan masyarakat luas. PMII juga mendesak transparansi penggunaan
anggaran perjalanan dinas, termasuk rincian tujuan perjalanan, output kegiatan,
hingga dampak konkret yang dihasilkan bagi daerah.
Menurut PMII, publik berhak mengetahui sejauh mana
efektivitas perjalanan dinas yang menghabiskan uang rakyat hingga miliaran
rupiah tersebut. Sebab tanpa keterbukaan, perjalanan dinas rawan dipandang
hanya sebagai rutinitas birokrasi yang menguras APBD tanpa hasil yang jelas
bagi masyarakat.
“Efisiensi anggaran harus menjadi perhatian serius. Di
tengah tuntutan pemerataan pembangunan, pemerintah daerah dan DPRD seharusnya
lebih mengutamakan kebutuhan rakyat dibanding agenda-agenda seremonial atau
perjalanan yang tidak memiliki dampak langsung terhadap masyarakat,” tambahnya.
Pernyataan PMII itu kembali membuka perdebatan lama tentang
wajah pengelolaan anggaran daerah: ketika belanja birokrasi tetap gemuk,
sementara kebutuhan dasar masyarakat, terutama infrastruktur jalan, masih
tertinggal dan menunggu prioritas.
Editor: Sebri Asdian


