Wadidaw! Ternyata Timbunan Tanah Stadion Swarna Bhumi Capai Rp24 Miliar, Publik Diminta Ikut Awasi

Wadidaw! Ternyata Timbunan Tanah Stadion Swarna Bhumi Capai Rp24 Miliar, Publik Diminta Ikut Awasi

Tampak kompleks Stadion Swarnabhumi Jamnbi dari atas. (Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan)

BEKABAR.ID, JAMBI - Proyek Stadion Jambi Swarnabhumi kembali jadi sorotan. Penelusuran bekabar.id, ditemukan item pekerjaan urugan tanah biasa (dari sumber galian) senilai Rp24.189.027.420. Angka itu berasal dari volume timbunan 220.904,36 m³ dengan harga satuan Rp109.500/m³.

Pekerjaan multiyears yang digarap PT Sinar Cerah Sempurna ini berlangsung pada Tahun Anggaran 2022 sampai dengan 2024 dengan nilai kontrak total Rp244 miliar. Nilai timbunan hampir 10 persen dari total kontrak, memantik pertanyaan, sebesar apa kebutuhan elevasi tapak sehingga menuntut urugan ratusan ribu meter kubik? Sejauh mana jarak angkut (haul distance) material galian? Apakah spesifikasi pemadatan hingga pengujian laboratorium–lapangan (Proctor, sand cone, kadar air) benar-benar terpenuhi?

Di proyek infrastruktur, urugan tanah bukan sekadar memindahkan tanah. Biaya biasanya dipengaruhi: sumber material (legalitas lokasi galian), jarak angkut, metode pemadatan, dan hasil uji kepadatan minimal (umumnya ?95% MDD) agar fondasi lapangan dan struktur penunjang stabil. Tanpa transparansi atas aspek-aspek ini, publik sulit menilai kewajaran biaya.

Titik Kritis yang Perlu Dijelaskan Pemerintah/PPK

Metode pengukuran volume: cross-section (cut & fill) atau perhitungan berbasis ritase? Bukti ukur mana yang dipakai saat pembayaran termin?

Sumber material & perizinan: koordinat lokasi galian, izin tambang/galian C, dokumen lingkungan, dan rute angkut untuk meminimalkan dampak debu–kemacetan.

Spesifikasi & mutu: standar kepadatan, hasil uji sand cone per lot, pengendalian kadar air, dan catatan rework jika ada titik gagal uji.

Kontrol biaya: apakah harga satuan sudah memasukkan faktor jarak angkut, penyusutan (shrinkage/swelling), serta mobilisasi–demobilisasi alat berat?

As-built & pembandingan: peta elevasi awal vs akhir (topografi), sehingga publik dapat melihat kebutuhan urugan secara objektif.

Seruan Aktivis: “Jangan Tutup Mata pada Item Rp 24 Miliar”

Aktivis Jambi Askar Putra meminta masyarakat dan lembaga pengawas turun aktif mengawal proyek ini. “Nilai timbunannya saja Rp24 miliar itu bukan angka kecil. Saya mengajak warga Jambi, DPRD, BPK, hingga aparat penegak hukum melakukan audit teknis terbuka: tampilkan Bill of Quantity, as-built drawing, lokasi galian, jarak angkut, dan hasil uji kepadatan per segmen. Transparansi ini wajib agar biaya dan kualitas seimbang,” tegas Askar.

Askar menambahkan, pengelolaan urugan tanah menentukan umur stadion. “Kalau pemadatan tidak tercapai, permukaan bisa ambles, retak, bahkan mengganggu struktur lintasan dan tribun. Kita tidak ingin proyek bernilai ratusan miliar berubah jadi beban pemeliharaan jangka panjang," bebernya.

Ia juga mendorong dashboard kemajuan proyek yang bisa dipantau publik: progres fisik–keuangan, daftar perubahan (VO/CCO), dan dokumentasi uji mutu.

“Publik berhak tahu setiap rupiah yang dibelanjakan. Proyek sebesar ini harus jadi etalase akuntabilitas, bukan menambah daftar tanya," ucapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana dan PPK belum menyampaikan penjelasan teknis terperinci terkait metode, pengujian mutu, dan rincian penghitungan volume timbunan.

Sebelumnya, bangunan megah Stadion Swarna Bhumi Jambi yang sempat dielu-elukan sebagai ikon olahraga baru, kini menyajikan pemandangan muram. Dari pantauan lapangan, Jumat (23/08/25), alih-alih menjadi kebanggaan daerah, stadion yang menelan dana Rp250 miliar itu justru dikelilingi semak belukar dan pagar terkunci rapat. Warga hanya diperbolehkan menatap dari luar, tanpa tahu kapan fasilitas ini benar-benar akan dimanfaatkan.

Stadion yang berlokasi di Jalan Lintas Jambi-Muara Bulian KM 21, Kelurahan Pijoan, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi ini dibangun sejak 2022 dengan janji selesai akhir 2024. Namun memasuki Agustus 2025, bangunan itu tak kunjung difungsikan, bahkan terlihat seperti tak terurus.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, ke mana arah sebenarnya stadion ini? Apakah murni stadion sepak bola, sport center, atau hanya proyek mercusuar yang menghabiskan uang rakyat?

Lebih ironis, desain yang awalnya direncanakan berkapasitas 20.000 penonton, tiba-tiba menyusut menjadi 10.000 tanpa penjelasan memadai.

Aktivis Jambi, Danil Febriandi, menilai pembangunan Stadion Swarna Bhumi hanyalah proyek ambisius yang gagal menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

“Rp250 miliar digelontorkan untuk bangunan yang kini dikelilingi rumput liar. Kalau dana sebesar itu dipakai untuk memperbaiki jalan rusak, membangun sekolah, layanan kesehatan, atau penanggulangan banjir, manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Ini malah kesannya jadi bangunan mati,” tegas Danil.

Ia menambahkan, proyek stadion ini mencerminkan tata kelola pembangunan yang buruk. “Yang digadang-gadang sebagai stadion standar FIFA, nyatanya jauh panggang dari api. Kalau dibiarkan, Swarna Bhumi bukan jadi ikon olahraga, tapi monumen kegagalan pemerintah,” pungkasnya.

Apakah stadion Rp250 miliar itu benar-benar akan difungsikan, atau dibiarkan membusuk sebagai saksi bisu kebijakan yang salah arah?

Editor: Sebri Asdian