Promotor Asia MX Dituding Tipu Publik dengan Panflet Bodong, Tarif Parkir Selangit: Pecahkan Rekor Masuk Toilet Termahal di Dunia

Promotor Asia MX Dituding Tipu Publik dengan Panflet Bodong, Tarif Parkir Selangit: Pecahkan Rekor Masuk Toilet Termahal di Dunia

BEKABAR.ID, KERINCI - Euforia ajang Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 yang digelar di kawasan Lahar Dingin, Desa Sungai Rumpun, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, berubah menjadi gelombang kekecewaan. Di balik gegap gempita mesin motocross dan keramaian ribuan penonton, muncul tudingan serius terhadap penyelenggara yang dianggap menyesatkan publik melalui promosi yang dinilai tidak sesuai dengan realitas di lapangan.

Sorotan paling tajam mengarah pada hadiah yang sebelumnya dipublikasikan secara masif melalui brosur dan pamflet. Dalam materi promosi yang beredar luas sebelum perlombaan, panitia menjanjikan hadiah spektakuler berupa satu unit mobil Grand Max, tiga unit sepeda motor jenis Yamaha, serta hadiah uang tunai ribuan dolar Amerika Serikat.

Namun ketika momen pembagian hadiah tiba, sejumlah peserta dan penonton mengaku terkejut. Kendaraan yang sebelumnya diasumsikan sebagai unit baru ternyata disebut-sebut merupakan kendaraan bekas. Sementara hadiah uang yang dalam brosur tertulis mencapai 3.000 dolar Amerika Serikat, realisasi yang diterima pemenang disebut hanya berkisar Rp 17 juta.

Kekecewaan semakin membesar ketika informasi tersebut menyebar di media sosial. Setelah menuai kritik, promotor disebut kemudian menambahkan pembayaran rupiah sesuai dengan kurs pertukaran 300 dolar Amerika Serikat kepada pemenang.

Bagi sebagian masyarakat, persoalan ini bukan sekadar selisih nominal hadiah. Yang dipersoalkan adalah integritas promosi yang dianggap tidak transparan sejak awal.

"Kalau memang kendaraan bekas, tulis kendaraan bekas. Kalau hadiahnya tidak sebesar yang ditampilkan, sampaikan apa adanya. Jangan menjual mimpi kepada peserta lalu menghadapkan mereka pada kenyataan yang berbeda saat acara selesai," ujar seorang penonton yang hadir di lokasi.

Namun polemik hadiah ternyata hanya satu bagian dari rentetan persoalan yang mencuat. Keluhan lain datang dari tarif parkir yang dinilai tidak masuk akal. Pengunjung yang membawa mobil mengaku dikenakan biaya selangit, antara Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kendaraan. Sementara pengendara sepeda motor dipungut biaya Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Tarif tersebut membuat banyak pengunjung mengeluh karena dianggap jauh di atas tarif parkir pada umumnya untuk sebuah kegiatan hiburan daerah.

Ironisnya, setelah membayar tiket masuk dan parkir, pengunjung masih harus merogoh kocek untuk kebutuhan paling dasar, yakni menggunakan toilet.

Di lokasi acara, pengunjung dewasa disebut dikenakan biaya Rp 10 ribu setiap kali masuk toilet. Sedangkan anak-anak dipatok Rp 5 ribu.

Praktik itu memicu gelombang kritik karena dianggap berlebihan dan mencederai citra daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Jambi.

Seorang aktivis muda Kerinci Yovi Afrizal menilai penyelenggaraan event tersebut telah bergeser dari semangat olahraga dan pariwisata menjadi ladang komersialisasi yang berlebihan.

"Ini bukan lagi soal motocross. Ini soal bagaimana publik diperlakukan sebagai objek yang terus-menerus dipungut uangnya. Mulai dari tiket, parkir, sampai mau buang air pun harus membayar dengan tarif yang membuat orang berpikir dua kali. Kalau begini, masyarakat datang bukan menikmati hiburan, tapi seperti sedang mengikuti ujian ketahanan dompet," katanya kepada bekabar.id, Senin (01/06/26).

Menurut dia, persoalan hadiah yang tidak sesuai ekspektasi serta berbagai pungutan yang muncul selama acara berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan event besar di Kerinci.

"Promosi seharusnya menjadi alat informasi, bukan alat ilusi. Jangan tipu publik dengan panflet bodong. Di depan ditampilkan hadiah yang membuat orang berdecak kagum, di belakang muncul penjelasan yang membuat orang mengernyitkan dahi. Kalau informasi di pamflet dan realisasi di lapangan berbeda jauh, publik berhak mempertanyakan integritas penyelenggara," ujarnya.

Ia bahkan menyindir mahalnya biaya toilet yang menjadi perbincangan luas di media sosial.

"Saya belum pernah menemukan toilet wisata yang begitu percaya diri mematok tarif seperti itu. Mungkin ini bisa diajukan ke museum ekonomi kreatif dunia sebagai inovasi baru. Toilet termahal di dunia. Orang datang ke Kerinci tak hanya melihat balap motor, tapi juga belajar bahwa kebutuhan biologis ternyata bisa menjadi komoditas premium," katanya.

Dia menambahkan, event olahraga seharusnya menjadi sarana promosi daerah, mendatangkan wisatawan, serta membangun citra positif Kerinci di mata publik nasional. Bukan sebaliknya, meninggalkan kesan bahwa setiap sudut acara telah berubah menjadi mesin pungutan.

"Yang dipertaruhkan tak hanya nama promotor, tetapi nama Kerinci. Wisatawan datang membawa harapan menikmati event bertaraf internasional. Jangan sampai yang mereka bawa pulang justru cerita tentang parkir selangit, toilet mahal, dan hadiah yang memunculkan tanda tanya. Event besar seharusnya meninggalkan kebanggaan, bukan bahan lelucon di media sosial," ujarnya.

Sementara, promotor acara Adi Purnomo Ketika dikonfirmasi bekabar.id irit bicara, anggota DPRD Kabupaten Kerinci ini menyebut, keributan soal pembagian hadiah itu karena adanya salah perhitungan, dan hal tersebut menurutnya sudah selesai. “Ada salah paham perhitungan, sudah clear,” ujarnya, Senin (01/06/26).

Politisi PDIP ini tak menanggapi soal motor dan mobil bekas yang dijadikan hadiah, begitu juga mengenai tarif toilet.

Editor: Sebri Asdian