BEKABAR.ID, KERINCI - Di balik meriahnya pelaksanaan Jambore Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Kerinci 2026 di Lapangan Sepak Bola Desa Lubuk Nagodang, Kecamatan Siulak, terselip persoalan serius yang mulai menuai sorotan publik. Sejak kegiatan dibuka pada Kamis (14/5/2026), sejumlah peserta dilaporkan tumbang dengan berbagai keluhan kesehatan.
Mulai dari kelelahan, sesak
nafas, demam, hingga kondisi yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Namun yang menjadi perhatian, peserta yang sakit disebut langsung dibawa ke
RSUD Kerinci di Bukit Tengah, bukan terlebih dahulu ditangani secara maksimal
di Puskesmas Siulak Gedang yang notabene merupakan fasilitas kesehatan terdekat
sekaligus berada dalam wilayah kerja lokasi kegiatan.
Kondisi ini memunculkan
pertanyaan besar terkait kesiapan Puskesmas Siulak Gedang dalam mendukung
agenda besar tingkat kabupaten tersebut.
Padahal, dalam sistem pelayanan
kesehatan, puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan medis. Fasilitas
kesehatan tingkat pertama itu seharusnya menjadi tempat pemeriksaan awal,
observasi, hingga penanganan dasar sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit apabila
memang membutuhkan tindakan lanjutan.
“Kalau langsung dibawa ke rumah
sakit tanpa penanganan maksimal di puskesmas, ini menunjukkan ada yang tidak
siap di lapangan. Apalagi acaranya sudah direncanakan jauh-jauh hari,” ujar
salah seorang sumber di lokasi kegiatan kepada bekabar.id, Sabtu (16/05/26).
Sorotan semakin tajam ketika
diketahui ambulans yang disiagakan di lokasi kegiatan hanya satu unit. Padahal
jambore tersebut melibatkan ratusan peserta dari berbagai sekolah dan kecamatan
di Kabupaten Kerinci.
Minimnya fasilitas kesehatan di
lokasi dinilai memperlihatkan lemahnya antisipasi terhadap potensi gangguan
kesehatan peserta selama kegiatan berlangsung. Terlebih aktivitas jambore
identik dengan kegiatan luar ruangan yang menguras fisik peserta.
“Ini bukan acara kecil.
Pesertanya banyak, aktivitasnya padat, cuaca juga tidak menentu. Harusnya
pelayanan kesehatan dibuat maksimal, bukan sekadar formalitas hadir,” kata
sumber lainnya.
Beberapa pihak bahkan menilai
Puskesmas Siulak Gedang terkesan abai dalam ikut menyukseskan kegiatan
tersebut. Sebab selain lokasi kegiatan berada di wilayah kerjanya, agenda
jambore tingkat kabupaten tentu sudah diketahui sejak lama sehingga persiapan pelayanan
kesehatan semestinya bisa dilakukan lebih matang.
Aktivis muda Kerinci, Dedek Eko
Pratama menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya,
keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dibanding sekadar seremoni
kegiatan.
“Jangan sampai kegiatan besar
daerah justru memperlihatkan lemahnya kesiapan pelayanan dasar pemerintah. Ini
menyangkut anak-anak dan pelajar. Kalau fasilitas kesehatan minim, lalu peserta
sakit langsung dibawa ke rumah sakit, artinya fungsi pelayanan awal di lapangan
tidak berjalan optimal,” ujarnya, Sabtu (16/05/26).
Sekjen DPD IMM Provinsi Jambi ini
mengatakan, keberadaan ambulans tunggal di lokasi kegiatan juga menunjukkan
lemahnya mitigasi risiko dari pihak terkait.
“Kalau dalam satu waktu ada
beberapa peserta yang membutuhkan evakuasi bersamaan bagaimana? Ini yang harus
dipikirkan. Jangan sampai pemerintah hanya fokus pada kemeriahan acara, tetapi
lalai terhadap aspek keselamatan,” katanya.
Ia juga meminta Dinas Kesehatan
Kabupaten Kerinci melakukan evaluasi terhadap kesiapan tenaga kesehatan dan
fasilitas medis dalam setiap agenda besar daerah.
“Puskesmas jangan hanya jadi
penonton. Mereka harus hadir penuh sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan
masyarakat,” tegasnya.
Hingga kini belum diketahui
secara pasti berapa jumlah peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama
jambore berlangsung. Namun informasi yang beredar di lapangan menyebut jumlah
peserta yang mendapatkan penanganan medis terus bertambah sejak hari pertama
kegiatan.
Sementara itu, Kepala Puskesmas
Siulak Gedang, Antes Putra, telah dikonfirmasi terkait kesiapan pelayanan
kesehatan dalam kegiatan tersebut, termasuk soal minimnya ambulans dan peserta
yang langsung dirujuk ke RSUD Kerinci. Namun hingga berita ini diterbitkan,
belum memberikan tanggapan.
Peserta Jambore Tumbang,
Petugas Kesehatan Menghilang
Diberitakan sebelumnya, Jambore
Kwartir Cabang Pramuka Kabupaten Kerinci 2026 yang digelar di Lapangan Sepak
Bola Desa Lubuk Nagodang, Kecamatan Siulak, semestinya menjadi ruang belajar
tentang disiplin, solidaritas dan kesiapsiagaan. Namun yang tampak pada Jumat
(15/5/2026) justru sebaliknya, ketika peserta tumbang, petugas kesehatan
seperti lenyap dari lokasi kegiatan.
Petugas kesehatan yang sebelumnya
berjaga disebut sudah tidak lagi berada di arena jambore sejak Kamis
(14/5/2026) malam, padahal kegiatan masih berlangsung.
Anak-anak masih berkegiatan,
risiko masih ada. Tapi petugas kesehatan malah tak terlihat.
Akibatnya, saat peserta mulai
sakit, panitia dan pendamping pontang-panting sendiri.
Sofia, siswi kelas 1 SMP asal
Siulak Mukai, dilaporkan mengalami sesak akibat asma setelah kelelahan
mengikuti kegiatan. Ia sakit sekitar pukul 17.00 WIB. Tidak ada ambulans. Tidak
ada petugas medis yang siaga. Yang ada hanya kepanikan dan mobil pribadi untuk
membawanya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, Yuda, bocah 9
tahun, ikut tumbang. Anak itu disebut mengalami gangguan usus akibat kelelahan.
Nasibnya lebih miris. Ia dibawa ke rumah sakit menggunakan sepeda motor.
Sebuah kegiatan besar yang
melibatkan anak-anak, namun urusan paling dasar, layanan kesehatan justru
seperti dianggap pelengkap administrasi.
Padahal sumber mengungkapkan
kepada bekabar.id bahwa panitia sudah menyurati Dinas Kesehatan Kabupaten
Kerinci agar menyiapkan tenaga medis selama kegiatan berlangsung. "Surat
ada, kegiatan jalan, peserta banyak, tapi saat kondisi darurat muncul, petugas
kesehatan entah ke mana," celutuk dia, Jumat (15/5/2026).
"Ini bukan sekadar soal
peserta yang sakit. Ini adalah kelalaian dalam membaca risiko," tambahnya.
Dia menyebutkan, kegiatan luar
ruang dengan aktivitas fisik tinggi selalu punya potensi kedaruratan, terlebih
jika pesertanya ada anak-anak. "Mestinya tenaga kesehatan berjaga penuh
sampai kegiatan selesai, bukan datang sekadar formalitas pembukaan lalu hilang
saat dibutuhkan," keluhnya.
Yang membuat keadaan terasa lebih
ironis, lanjut dia, Pramuka selama ini selalu bicara tentang kesiapsiagaan,
kedisiplinan, dan kepedulian. "Tapi di lapangan, ketika peserta tumbang,
justru pendamping yang dipaksa menjadi sopir dadakan, ambulans darurat,
sekaligus penanggung jawab keselamatan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Kerinci belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi
terkait tidak adanya petugas kesehatan di lokasi kegiatan pada Jumat. Diamnya
dinas kesehatan membuat pertanyaan makin besar, apakah keselamatan peserta memang
tidak masuk prioritas?
Editor: Sebri Asdian
Ilustrasi AI genered bekabar.id 

