Pemprov Jambi Beranji Lagi, Perbaikan Jalan Ranah Pemetik Masih di Atas Kertas

Pemprov Jambi Beranji Lagi, Perbaikan Jalan Ranah Pemetik Masih di Atas Kertas

BEKABAR.ID, KERINCI - Janji perbaikan jalan Renah Pemetik itu belum berubah menjadi aspal. Hampir setahun setelah komitmen perbaikan dilontarkan, Pemerintah Provinsi Jambi kini menghadirkan penjelasan baru, yakni proses masih berjalan di atas kertas.

Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR), Pemprov menyatakan perbaikan jalan di Desa Ranah Pemetik, Kabupaten Kerinci, menjadi prioritas 2026. Klaim ini disebut sebagai tindak lanjut arahan Gubernur Al Haris, yang sebelumnya menjanjikan hal serupa pada 2025.

Namun, alih-alih pekerjaan fisik, yang tersedia baru sebatas tahapan administratif.

Plt. Kepala UPTD Workshop dan Peralatan PUTR, Muhammad Naufal Afandi, menyebut pihaknya kini berada pada fase “persiapan akhir”. Tahap ini mencakup survei lokasi yang telah rampung, serta mobilisasi alat berat yang masih direncanakan.

“Kami sedang dalam tahap persiapan akhir,” ujar Naufal, Senin (30/03/2026).

Frasa “persiapan akhir” menjadi kunci dari narasi terbaru pemerintah. Dalam linimasa yang disusun, April dihabiskan untuk administrasi, pengecekan armada, hingga mobilisasi alat. Artinya, hingga penghujung bulan, perbaikan jalan belum tentu benar-benar dimulai.

Padahal, janji perbaikan sudah digaungkan sejak Mei tahun lalu oleh Al Haris. Kala itu, ia menyebut 2026 sebagai waktu realisasi. Kini, memasuki tahun yang dijanjikan, pemerintah masih berkutat pada tahap awal.

Di sisi lain, kondisi jalan di Ranah Pemetik tak ikut menunggu. Kerusakan tetap menjadi bagian dari keseharian warga lumpur saat hujan, debu saat kering, dan ongkos logistik yang terus menekan petani.

Pemprov beralasan, percepatan tengah diupayakan melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Tujuannya mulia, memperlancar distribusi hasil pertanian dan menekan biaya angkut. Namun kata “diharapkan” kembali mendominasi penjelasan resmi biaya logistik diharapkan turun, ekonomi diharapkan tumbuh.

Asal tahu saja di Jambi, narasi pembangunan infrastruktur kerap dimulai dengan janji, dilanjutkan dengan perencanaan, lalu berulang pada penegasan komitmen. Siklus ini bukan hal baru. Yang baru hanya tanggal dan pejabat yang menyampaikannya.

Pemerintah menyebut proyek ini sebagai bukti kehadiran negara hingga pelosok. Tapi bagi warga Ranah Pemetik, kehadiran itu belum terasa di jalan yang mereka lewati setiap hari.

Jika April berakhir tanpa alat berat benar-benar bekerja di lapangan, maka “prioritas 2026” berisiko menjadi sekadar istilah lain dari janji yang ditunda lagi.

Editor: Sebri Asdian